Rabu, 12 Desember 2012

Membina Kepribadian yang Islami


Setiap manusia terlahir dengan berbagai keunikannya. Keunikan dalam tingkah laku, sikap dan kepribadiannya. Kepribadian ini tumbuh seiring dengan perkembangan tubuh dan jiwa seseorang sesuai dengan lingkungan dimana tempat ia berada. Kepribadian erat kaitannya dengan bagaimana ia dididik oleh orang tua, lingkungan bergaul dan terutama lingkungan keluarga, karena lingkungan pada dasarnya akan sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang. Pribadi atau kepribadian menurut Asmaran yakni suatu bentuk prinsip-prinsip yang terkandung dalam diri seseorang, yang menyangkut dengan sikap dan tingkah laku. (Asmaran, 1992:1). Pribadi atau kepribadian adalah suatu totalitas psikofisis yang kompleks dari individu sehingga nampak dalam tingkah lakunya yang unik. (Sujanto dkk, 2004: 12) Kepribadian adalah bentuk kejiwaan yang ada pada seseorang yang dapat dilihat dari pembicaraan dan tingkah lakunya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian remaja dapat dibagi sebagai berikut:
  1. Faktor biologis, yaitu faktor yang berhubungan dengan keadaan jasmani. Jasmani setiap orang yang berbeda menyebabkan sikap dan sifat serta tenprament orang tersebut juga berbeda dengan orang lain.
  2. Faktor sosial, yaitu masyarakat atau manusia-manusia lain disekitar individu yang mempengaruhi individu yang bersangkutan. Masyarakat dapat mempengaruhi kepribadian seseorang. (Purwanto, 1991: 160)
Seorang remaja akan memiliki kepribadian yang berbeda dengan yang lainnya karena terbentuk melalui pengaruh kedua fakor di atas. Dengan demikian orang tua bisa membentuk kepribadian remaja menjadi baik melalui pengaruhnya dari aspek sosial. Tahap-tahap perkembangan pribadi manusia secara paedagogis meliputi:
  1. Tahap enam tahun pertama; tahap perkembangan fungsi pengindaran yang memungkinkan anak mulai mampu untuk mengenal lingkungannya.
  2. Tahap enam tahuan kedua; tahap perkembangan fungsi ingatan dan imajinasi individu yang memungkinkan anak mulai mampu menggunakan fungsi intelektual dalam usaha mengenal dan menganalisis lingkungannya.
  3. Tahap enam tahun ketiga; tahap perkembangan fungsi intelektual yang memungkinkan anak mulai mampu mengevaluasi sifat-sifat serta menemukan hubungan-hubungan antar variabel di dalam lingkungannya.
  4. Tahap enam tahuan keempat; tahap perkembangan fungsi kemampuan berdedikari, self derection dan self controle.
  5. Tahap kematangan pribadi; tahap dimana intelek memimpin perkembangan semua aspek kepribadian menuju kematangan pribadi dimana manusia berkemampuan mengasihi Allah dan sesama manusia. (Dalyono, 2005: 101-102)
Tahap-tahap pertumbuhan pada diri remaja dapat dijadikan acuan bagi para tokoh agama dan para orang tua untuk memahami dan melandasinya dengan pendidikan yang tepat sesuai dengan perkembangannya.

Dalam hal ini seseorang harus mengembangkan dan memanfaatkan potensi yang dimilikinya sehingga ia dapat membahagiakan dirinya dan orang lain serta tidak menggangu hak-hak orang lain. Bila tidak demikian, akan menyebabkan kegelisahan dan dan pertentangan batin. Namun, seseorang yang mengembangkan potensi yang ada untuk merugikan orang lain, mengurangi hak dan ataupun menyakitinya, tidak dapat dikatakan memiliki pribadi yang Islami, karena ia memanfaatkan potensi dalam dirinya untuk mengorbankan hak orang lain. Seperti yang terjadi pada banyak remaja dimana yang harus dikembangkan adalah sikap kejujuran antara sesama remaja dan para orang tua.

Prilaku jujur merupakan satu pilar penting di antara pilar-pilar akhlak Islam. Untuk memfokuskan dan meneguhkan hal ini jelas membutuhkan kerja keras. Rasulullah sendiri memberikan perhatian untuk menanamkan perangai itu pada diri anak. Beliau juga memberikan pengarahan kepada orang tua agar membiasakan diri berprilaku jujur. Ini dengan maksud agar mereka tidak terperosot ke dalam ketidakjujuran yang tercela itu, lalu berbuat bohong kepada anak yang pada akhirnya nanti akan ditiru si anak tersebut. (Suwaid, 2006: 244). Dengan demikian kejujuran yang harus dibentuk pada diri anak sebenarnya merupakan bagian dari pribadi yang Islami yang diinginkan setiap tokoh agama dan para orang tua dalam memberikan pendidikan kepada mereka. Para tokoh agama dan orang tua dalam hal ini memiliki tanggung jawab pribadi yang Islami siswa.

Agama Islam memberikan bimbingan dan pengarahan kepada umat manusia sejak masa kanak-kanak hingga ke akhir hayat yaitu Islam mengajarkan tiga konsep yaitu iman, ibadah dan akhlak. Mereka yang beriman dan mengamalkan kewajiban agama dengan sebaik-baiknya akan berbuah pula dalam penampilan akhlak yang semakin luhur terpuji. Segala sesuatu dipikirkan dengan pertimbangan agama. Sesuatu yang berdosa dan dilarang agama akan ditinggalkannya, walaupun tidak ada orang yang melihatnya. (Purwoko, 2001: 37-40)

Agama memberikan petunjuk yang jelas bagi seseorang tentang bagaimana konsep penyehatan mental yang sesungguhnya. Agama bisa dijadikan pedoman hidup seseorang yang menjalani manusia yang benar dan mendapat ridho dari Allah. Syari’at Islam tidak dihayati dan diamalkan begitu saja, tetapi harus dididik melalui proses pendidikan, sebab pendidikan Islam lebih harus dididik melalui sikap mental yang terwujud dalam amal perbuatan, baik segi keperluan diri sendiri maupun orang lain. dilihat dari segi lain pendidikan Islam tidak hanya bersifat teoritis saja, tetapi juga bersifat praktis.

Ajaran Islam tidak memisahkan antara iman dan amal sholeh, sebab pendidikan adalah sekaligus pendidikan iman dan pendidikan amal ajaran Islam merupakan ajaran yang berisi tentang sikap dan tingkah laku pribadi seseorang dalam bermasyarakat, menuju kesejahteraan hidup individu dan kelompok, maka pendidikan Islam adalah pendidikan individu dan pendidikan masyarakat. Adapun orang yang pertama bertugas dalam mendidik adalah para Nabi dan Rasul selanjutnya para ulama, sebagai penerus Nabi dan kewajiban mereka. (Daradjat, 1996: 28)

Sebagaimana halnya masalah ibadah, maka masalah mentalpun harus diberikan dan dibiasakan semenjak kecil kepada para remaja. Teori keilmuan yang beraneka macam belum menjamin seseorang dapat memiliki mental yang sehat tanpa dibarengi dengan pengamalan berupa pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Maka dengan usaha dengan membiasakan dengan diri remaja secara dini, lebih bisa diharapkan remaja memiliki mental yang sehat.

Seseorang dikatakan memiliki mental sehat bila ia terhindar dari gejala penyakit jiwa dengan memanfaatkan potensi yang dimilikinya untuk menyehatkan fungsi jiwa yang ada di dalam dirinya. Kecemasan dan kegelisahan pada diri seseorang akan lenyap bila fungsi jiwa dalam dirinya seperti pikiran, perasaan, sikap, jiwa pandangan, dan keyakinan hidup berjalan seiring sehingga menyebabkan adanya keharmonisan dalam diri seseorang.

Keharmonisan antara fungsi jiwa dan tindakan dapat dicapai antara lain dengan menjalan kan ajaran agama, dan berusaha menerapkan norma-norma sosial, hukum, moral dan sebagainya. Dengan demikian akan tercipta ketenangan batin yang menyebabkan timbulnya kebahagiaan di dalam diri seseorang. (Burhanuddin, 1999: 12)

Adapun cara menyampaikan dan menanamkan jiwa remaja itu hendaklah dengan lemah lembut dan selalu mengingat akan kebesaran Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat An- Nahl ayat 125:

Artinya: “Serulah (manusia) kepada Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tantang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl : 125).

Pendidikan mental kepada anak-anak atau remaja merupakan pendidikan dasar bagi kesehatan mental. Al Ghazali berpendapat bahwa kewajiban pendidik dalam menyehatkan mental anak adalah:
  1. Menaruh kasih sayang terhadap anaknya.
  2. Tidak mengharapkan balas jasa.
  3. Memberikan nasehat kepada murid pada setiap kesempatan.
  4. Mencegah anak dari akhlak yang tidak baik.
  5. Berbicara dengan anak sesuai dengan kadar akalnya.
  6. Jangan menampakkan rasa benci pada satu bidang ilmu.
  7. Murid yang di bawah umur diberikan pelajaran yang jelas dan pantas baginya.
  8. Guru harus mengamalkan ilmunya. (Al-Abrasyi, 1987: 158)
Pedoman ini bisa digunakan oleh para tokoh agama dan para orang tua dalam menyehatkan mental remaja akan dapat tercipta melalui konsep yang jelas dan sistematis. Nilai-nilai agama yang diberikan kepada siswa tersebut adalah dengan cara memberikan contoh atau teladan dalam segala hal dimungkinkan dapat menciptakan mental yang sehat pada diri siswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih pada pengunjung dan silahkan tinggalkan komentar disini.... :)